Am I Happy Enough To Say I’m Happy?

Posted on February 18, 2011

0


Disclaimer: Post ini dibuat saat galau menyerang, di pagi buta, dan menahan lapar. Lebay. Kalian sudah diperingatkan.

Pertanyaan/ judul di atas kadang bikin saya berpikir ulang, berpikir lagi, lagi dan lagi sampe saya sendiri nggak bisa ngitung berapa kali saya berpikir. Am I happy enough to say I’m happy? Or, am I happy enough to be considered as a happy man? Am I happy?

Beberapa kali saya nonton serial tivi dari Amerika dan saya menemukan pertanyaan besar tersebut saat saya nonton salah satu episode dari Desperate Housewives. Masing-masing tokoh di dalam serial tersebut mencari kebahagiaan, masing-masing tokoh di serial tersebut menganggap diri mereka kurang bahagia, bahkan Susan (diperankan oleh Teri Hatcher) pernah meragukan dirinya sendiri soal kebahagiaan yang dia miliki. Apa itu kebahagiaan? Apakah itu hal yang hakiki? Apakah bisa dimikili semua orang?

Bahagia selalu disimbolkan dengan senyuman, beberapa kali orang menangis karena bahagia, beberapa kali orang menjerit karena bahagia, seringkali orang berpelukan karena merayakan kebahagiaan. Tapi tidak ada jaminan bahwa di dasar hati mereka yang terdalam mereka merupakan orang yang bahagia.

Pertanyaan selanjutnya: apakah saya bahagia?

Saya punya orangtua lengkap yang mencintai saya dan mendukung segala kebutuhan hidup saya, dalam poin ini: ya, saya bahagia.
Saya punya keluarga dan teman-teman yang mencintai saya, beberapa apa adanya sebagian lain tidak bisa menerima sebagian dari diri saya, dalam poin ini: ya, saya masih bahagia.
Meskipun saya tidak lulus tepat waktu, teman-teman saya tidak mencibir bahkan memberikan semangat untuk mengejar, sebagian lain ikut berjuang bersama saya, dalam poin ini: ya, saya baik-baik saja.
Tiga poin di atas merupakan poin-poin dimana saya menemukan kebahagiaan. Saya baik-baik saja. Pada dasarnya saya bahagia. Tapi dari tiga poin di atas, plus poin-poin lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, ada poin dimana saya merasa tidak bahagia. Ada yang kurang, ada yang hilang.

Saya tidak tau apa itu.

Harusnya saya merasa tercukupi, tapi manusia nggak akan pernah bisa bilang cukup kalo masih bisa lebih. Lalu apa yang kurang?
Saya tau kalo tulisan ini akan jadi pointless, tapi saya merasa perlu untuk menulis ini.

Advertisements