TV Series

Posted on December 23, 2010

4


No, it’s not going to be another mellow-dramatic post, I’m not going to whine, I just want to share another magic. For me, Glee is a magic. Entahlah, mungkin saya berlebihan atau mungkin saya pecinta pop-culture sejati. Tapi sejak pertama kali muncul iklannya di tivi, saya penasaran. A musical TV series? Kalopun udah pernah ada sebelumnya, saya nggak pernah tau, dan kalopun ada drama remaja yang lebih entertaining dari Glee, sini kasih judul ke saya! *nantang*

Kesukaan saya sama serial ini, seperti yang udah saya tulis, berawal dari rasa penasaran. Secara acak saya nonton episode per episode, karena jam tayangnya di Star World nggak cocok sama jadwal saya main dan lain sebagainya, hehe. Maka, setelah bosan menonton secara acak, saya beli DVD-nya. Tentunya bajakan. Saya marathon season 1 sampe akhirnya blenger sendiri karena nonton serial TV itu bisa sampe gak inget waktu, apalagi marathon. Tau-tau udah pagi aja. Ceritanya ringan, seputar anak SMA Amerika yang nggak jauh-jauh dari kisah bullying, hamil diluar nikah, hubungan cinta yang rumit sampe ke cerita minoritas tentang cowok homoseksual yang under-pressure. Well, nggak ringan juga sih, malah cukup rumit, tapi serial ini bisa dengan pas nyelipin lagu-lagu di setiap episode-nya. Soal award? Awal tahun ini Glee menang Golden Globe Awards untuk kategori best musical or comedy television series, ngalahin The Office dan 30 Rock.

“We would like to thank all the wonderful people who actually thought a musical would work on primetime televsion.”

Kata Ryan Murphy pas nerima piala Golden Globe. Great job, Sir!

Lalu, yang harus saya kejar saat ini adalah Dexter. Awalnya bukan karena penasaran, tapi karena saya nonton beberapa episode serial ini secara acak di Fox Crime. Setelah beberapa kali nonton, penasaran baru muncul setelahnya. Dia anggota kepolisian Miami, tapi dia juga seorang pembunuh berantai. Well, dari keunikan plot itu saya bela-belain cari season 1 dan SAYA SUKA!! *maap gak santai*
Di Miami, dimana angka kejahatan lebih tinggi daripada kasus yang berhasil diselesaikan oleh kepolisian setempat, Dexter main hakim sendiri dengan cara membunuh para penjahat yang nggak berhasil diungkap oleh para polisi. Dari kecil dia punya perasaan mendesak untuk membunuh, kebutuhan itu diakomodasi oleh bapaknya Dexter dengan mengarahkan anaknya untuk membunuh orang-orang yang pantas dibunuh. Pas kecil pastinya dia nggak langsung bunuh orang, pertama-tama hewan. Biar lebih lengkap dan jelasnya, tonton sendiri deh. :mrgreen:

Season 5 dari serial ini udah dirilis, itu tandanya Dexter merupakan serial sukses dan diminati banyak orang. Kalo soal awards, Michael C. Hall menang Golden Globe tahun ini atas perannya sebagai Dexter, dan di season 5 ada Julia Stiles selama 10 episode sebagai Lumen Pierce. Saya belom nonton yang season 5 dan nggak bakalan nonton sebelom saya menyelesaikan season 4 terlebih dahulu. Kalo kebetulan saya nonton di TV sih lain cerita, itu kan gak sengaja. :p

Nah, kalo yang ini saya lagi penasaraaaaaaaaaaannn… sampe ke ubun-ubun. Kenapa?
Coba cek sampul majalan Rolling Stone yang satu ini:

Gimana nggak bikin bertanya-tanya? Segitu hebatnya serial tentang vampir? Begitu saya konfirmasi ke temen saya Benita, saya jadi makin penasaran. Nggak semacam Twilight Saga yang cemen banget, True Blood ceritanya jauh lebih dewasa dan mengikutsertakan politik di dalamnya. Jadi, manusia dan vampir hidup berdampingan dan sama-sama terjun di dunia politik. Sounds weird, huh? Tapi justru itu yang bikin menarik! Sampe sekarang saya belom nonton satu episode-pun. Yah, ntar aja lah kalo pe-er Dexter sama pe-er skripsi udah kelar.

DUH!! SKRIPSI!!
*sign out*

Advertisements