Beberapa hari belakangan ini saya menyalurkan hobi saya untuk menonton lebih banyak film daripada biasanya. Kesibukan saya kesampingkan dulu, karna bisa meledak otak ini kalo nggak menyiasatinya dengan hiburan-hiburan yang bisa sedikit meringankan kepala. Inilah beberapa film yang saya tonton, baik di bioskop maupun lewat DVD player. Ternyata banyak DVD dari kakak saya yang belom saya tonton.


Semuanya menghibur. No Reservation meleset dari perkiraan saya, tadinya saya pikir film ini bakalan ceria dan lucu, tapi ada kesan gelap dan ternyata film yang cukup serius. Definitely, Maybe punya alur cerita khas drama romantis, lumayan buat jadi referensi. Wall-E lucuu…!! Sekaligus saya kasian liat Wall-E. Tipikal film Disney, punya cerita yang dalam, bukan sekedar kartun buat lucu-lucuan. Jumper? Baru nonton? Yaa sebut saya cupu atau apa, terserah. Saya suka film dengan special efek, dan Jumper memenuhi kesukaan saya itu, meskipun nggak terlalu hebat. Night At The Museum: Battle of The Smithsonian adalah film kedua yang saya tonton SENDIRIAN di bioskop (yang pertama Get Smart), lucu banget pas nonton dialog antara Larry Daley dan Kahmunrah, sakit jiwa dua-duanya! Terminator Salvation adalah tontonan terpaksa, karna awalnya saya mau nonton Drag Me To Hell sendirian (again), tapi ada temen yang maksa pengen ikutan nonton dan akhirnya kita nonton Terminator. Saya bukan pengikut serial Terminator, makanya rada nggak ngerti sama jalan ceritanya. Tapi lagi-lagi saya puas liat special effect-nya. Drag Me To Hell, film ini mengambil ciri khas American Horror, dengan legenda masyarakat dan setan-setan yang punya sejarah sendiri. Agak jijik nontonnya, kenapa? Mending nonton aja deh sendiri. Nah, yang terakhir ini termasuk film yang saya tunggu-tunggu selain Star Trek. Transformers: Revenge of The Fallen. Film ini bikin saya dimanjain sama special effect yang tumpah di sepanjang film, jadi rada lebay film-nya, dan mengutip kata-kata temen saya yang nonton bareng sama saya pada waktu itu: ceritanya nggak kuat, tapi efeknya yang hebat.
Daaaann… inilah film yang bikin saya nggak pengen nonton kelanjutannya:

Okelah film ini diangkat dari novel laris, okelah film ini syuting di Mesir, dan okelah film ini diarahkan oleh sutradara peraih penghargaan yang sering bikin film dakwah atau sinetron religi, tapi akting pemainnya minus, ceritanya nggak dapet, dan menyingkirkan nama-nama seperti Dedi Mizwar, El Manik, Slamet Rahardjo dan Didi Petet ke deretan aktor pendukung. Film ini saya tonton sama ibu saya yang kemakan publikasi gede-gedean, sampai akhirnya beliau juga berpendapat sama dengan saya: kayak nonton sinetron di bioskop. Selain kebanyakan iklan (yang disampaikan secara kasar melalui dialog maupun adegan-adegan tertentu), film ini kayak cuma punya satu tujuan: syuting di Mesir. It’s get it nothing, karna malah kayak nonton TV-Magazine yang lagi ngebahas mengenai jalan-jalan ke Alexandria. Agak sedih membayangkan budget yang gede cuma buat ngeboyong seluruh pemain dan kru ke Timur Tengah trus filmnya nggak beda sama sinetron Ramadhan, ditambah ceritanya bersambung dengan cara yang amat sangat menggelikan.
Kayaknya saya harus pikir-pikir lagi sebelum nonton film di bioskop. Karena dulu pas saya asal tembak pas nonton (maksudnya, belom tau resensi atau latar belakang film itu), saya sering beruntung bisa nonton film yang bagus. Saat-saat nggak beruntung saya dimulai ketika saya nonton Twilight, terus film-film Indonesia lainnya yang saya sendiri agak malu menyebutkannya, mikir apa saya ini sampe mau nonton film-film itu??
Ujian udah mau selesai. Jumat ini finalnya. Ada beberapa film lagi yang pengen saya tonton, dan semoga bisa kesampean sebelum saya sibuk KKN. Bah, KKN!! Malaaaaasssnyaaaaaa…
definitely maybe juga belum sempat saya tonton
*inget cd nya yang tergeletak begitu saja di kamar*