Kata Dewi Lestari dalam salah satu postingan blog pribadinya, perpisahannya dengan Marcell udah dipersiapkan sejak setahun sebelum proses perceraian dimulai. Katanya, perlahan tapi pasti mereka mulai membuat jarak sampai akhirnya bener-bener sampe ke keputusan untuk berpisah.
September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan.
Secara umum saya setuju sama ide dari ‘belajar berpisah’. Coba bayangin kalo kita udah menjalani hubungan yang intensif dengan seseorang dengan waktu yang cukup lama, kalo saya sih bakalan menderita kalo tiba-tiba harus berpisah dengan cara yang mendadak, apalagi dengan cara yang nggak baik. Yang ada, ujung-ujungnya bakalan saling membenci, menghindari, mengutuk, atau apalah itu yang jelek-jelek. Tapi, di sisi lain saya juga nggak yakin bakalan bisa melakukan proses ‘belajar berpisah’ secara benar, karna kalo saya masih deket-deket orang yang saya sayangi tapi tujuannya adalah untuk berpisah, hal itu kayaknya bakalan jadi sangaaaaattt… berat.
Tapi secara umum orang-orang juga telah menerapkan sistem ‘mempersiapkan perpisahan’ meskipun bukan dengan pasangan hidup masing-masing. Farewell party yang banyak digelar buat orang-orang yang mau hengkang dari sebuah instansi adalah salah satu contohnya, proses menuju kelulusan dari sekolah atau universitas juga contoh lain dari perisapan untuk berpisah dengan hal-hal yang melekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Tapi lagi-lagi itu adalah hal yang nggak ringan, apalagi kalo harus berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya selalu ada di sekitar kita.
Saya yakin, meskipun ada yang namanya perpisahan, pasti nantinya bakalan ada sesuatu yang lebih baik yang bakalan terjadi dalam hidup kita. Something gone for better things, dan mengutip dari tagline temen saya yang selalu dia ucapkan di akhir siarannya: don’t cry because it’s over, but smile because it happened.
awesome,, speechless gw baca postingan lo bar…
akbaaarrrrr keren ih yaaa
saya pernah, mungkin, persiapan berpisah itu ya dalam batin…
jadi kayak ada feeling gitu lah. Duh..
@ lupek
baru tau kan gw bisa bikin tulisan kayak gitu?
hihihi…
@ takodok
heuheuee.. mulainya emang dari batin kok mbak, trus baru ke persiapan mental..
hadooh susah pokoknya..
akbar!love this post.
I made it. Sepertinya persiapan perpisahan saya kemaren dengan mantan sangat matang sehingga walopun lambat, semuanya berjalan lancar dan smooth =)