Feeds:
Posts
Comments

Movies Recently

Beberapa hari belakangan ini saya menyalurkan hobi saya untuk menonton lebih banyak film daripada biasanya. Kesibukan saya kesampingkan dulu, karna bisa meledak otak ini kalo nggak menyiasatinya dengan hiburan-hiburan yang bisa sedikit meringankan kepala. Inilah beberapa film yang saya tonton, baik di bioskop maupun lewat DVD player. Ternyata banyak DVD dari kakak saya yang belom saya tonton.

no-reservation 132-definitely,.maybe.2008-wall-e-poster-211 jumper_uk_movie_poster_onesheet night_at_the_museum_2_poster terminator-salvation-poster21 drag me to hell transformers: revenge of the fallen

Semuanya menghibur. No Reservation meleset dari perkiraan saya, tadinya saya pikir film ini bakalan ceria dan lucu, tapi ada kesan gelap dan ternyata film yang cukup serius. Definitely, Maybe punya alur cerita khas drama romantis, lumayan buat jadi referensi. Wall-E lucuu…!! Sekaligus saya kasian liat Wall-E. Tipikal film Disney, punya cerita yang dalam, bukan sekedar kartun buat lucu-lucuan. Jumper? Baru nonton? Yaa sebut saya cupu atau apa, terserah. Saya suka film dengan special efek, dan Jumper memenuhi kesukaan saya itu, meskipun nggak terlalu hebat. Night At The Museum: Battle of The Smithsonian adalah film kedua yang saya tonton SENDIRIAN di bioskop (yang pertama Get Smart), lucu banget pas nonton dialog antara Larry Daley dan Kahmunrah, sakit jiwa dua-duanya! Terminator Salvation adalah tontonan terpaksa, karna awalnya saya mau nonton Drag Me To Hell sendirian (again), tapi ada temen yang maksa pengen ikutan nonton dan akhirnya kita nonton Terminator. Saya bukan pengikut serial Terminator, makanya rada nggak ngerti sama jalan ceritanya. Tapi lagi-lagi saya puas liat special effect-nya. Drag Me To Hell, film ini mengambil ciri khas American Horror, dengan legenda masyarakat dan setan-setan yang punya sejarah sendiri. Agak jijik nontonnya, kenapa? Mending nonton aja deh sendiri. Nah, yang terakhir ini termasuk film yang saya tunggu-tunggu selain Star Trek. Transformers: Revenge of The Fallen. Film ini bikin saya dimanjain sama special effect yang tumpah di sepanjang film, jadi rada lebay film-nya, dan mengutip kata-kata temen saya yang nonton bareng sama saya pada waktu itu: ceritanya nggak kuat, tapi efeknya yang hebat.

Daaaann… inilah film yang bikin saya nggak pengen nonton kelanjutannya:

kcb_wallpaper011

Okelah film ini diangkat dari novel laris, okelah film ini syuting di Mesir, dan okelah film ini diarahkan oleh sutradara peraih penghargaan yang sering bikin film dakwah atau sinetron religi, tapi akting pemainnya minus, ceritanya nggak dapet, dan menyingkirkan nama-nama seperti Dedi Mizwar, El Manik, Slamet Rahardjo dan Didi Petet ke deretan aktor pendukung. Film ini saya tonton sama ibu saya yang kemakan publikasi gede-gedean, sampai akhirnya beliau juga berpendapat sama dengan saya: kayak nonton sinetron di bioskop. Selain kebanyakan iklan (yang disampaikan secara kasar melalui dialog maupun adegan-adegan tertentu), film ini kayak cuma punya satu tujuan: syuting di Mesir. It’s get it nothing, karna malah kayak nonton TV-Magazine yang lagi ngebahas mengenai jalan-jalan ke Alexandria. Agak sedih membayangkan budget yang gede cuma buat ngeboyong seluruh pemain dan kru ke Timur Tengah trus filmnya nggak beda sama sinetron Ramadhan, ditambah ceritanya bersambung dengan cara yang amat sangat menggelikan.

Kayaknya saya harus pikir-pikir lagi sebelum nonton film di bioskop. Karena dulu pas saya asal tembak pas nonton (maksudnya, belom tau resensi atau latar belakang film itu), saya sering beruntung bisa nonton film yang bagus. Saat-saat nggak beruntung saya dimulai ketika saya nonton Twilight, terus film-film Indonesia lainnya yang saya sendiri agak malu menyebutkannya, mikir apa saya ini sampe mau nonton film-film itu??

Ujian udah mau selesai. Jumat ini finalnya. Ada beberapa film lagi yang pengen saya tonton, dan semoga bisa kesampean sebelum saya sibuk KKN. Bah, KKN!! Malaaaaasssnyaaaaaa…

Mari berbicara tentang akhir-akhir ini.

Beberapa hari belakangan ini, konsentrasi dan tenaga saya udah hampir abis oleh sekian banyak tugas kuliah yang numpuk, jam tidur yang nggak tentu, ditambah dengan pekerjaan kantor yang terkadang bikin bosan. Saya juga kadang-kadang bosan sama hidup saya sendiri, dan saya percaya kalau hal itu bakalan selalu terjadi sebelum saya hengkang dari salah satu diantaranya: kampus atau kantor.

Mengenai kampus, saya punya rencana untuk lulus tahun depan. Dengan pertimbangan pengulangan beberapa mata kuliah, sambil saya mikirin judul skripsi apa yang pas buat saya. Mengenai kantor, saya belum bisa menemukan alasan yang tepat kenapa saya harus keluar dari sana. Masa iya cuma gara-gara bosan sama pekerjaan? Kalo saya pikir sih, saya cuma lagi butuh refreshing aja. Sama kayak apa yang setiap orang butuhkan kalo mereka memiliki jadwal yang sama setiap harinya selama dua tahun.

Tapi akhir-akhir ini ada hal-hal yang berbeda terjadi di kantor saya. Hal itu adalah munculnya para pembohong. Believe it or not, meskipun terkadang saya berbohong, tapi saya paling benci ketika saya dibohongi. Apalagi dibohongi oleh orang yang tidak pernah saya bohongi sebelumnya. Bisa dikatakan, saya udah berusaha menaruh sikap baik kepada mereka, tapi kenyataannya saya tidak mendapatkan hal yang setimpal dengan apa yang telah saya berikan. Kalo boleh ngambil pepatah, air susu dibalas dengan air tuba. Sungguh menyakitkan, tapi itu yang terjadi dengan saya akhir-akhir ini.

Kalau masalah bagaimana dibohonginya, mendingan itu cuma saya dan aktor-aktor terkait saja yang tau, karna saya juga malas menjabarkan kronologinya, itu cuma bikin saya makin marah atas kebohongan yang mereka lakukan ke saya. Pada prinsipnya, saya bakalan memaafkan, serius deh, cuma saya nggak bakalan melupakan. Kalo saya lagi berkonflik, biasanya saya nggak bakalan mau tau apa yang terjadi sama musuh saya. Hidup ya syukur, mati ya nasib. Jadi, jangan harap saya mau berurusan lagi sama kamu, kalau ternyata di kemudian hari kamu cari gara-gara yang berujung kepada memuncaknya kemarahan saya.

Baiklah, hari Sabtu sudah tiba, saatnya istirahat sebentar sebelum nanti kembali lagi ke rutinitas yang bikin siklus hidup saya amburadul.

Kata Dewi Lestari dalam salah satu postingan blog pribadinya, perpisahannya dengan Marcell udah dipersiapkan sejak setahun sebelum proses perceraian dimulai. Katanya, perlahan tapi pasti mereka mulai membuat jarak sampai akhirnya bener-bener sampe ke keputusan untuk berpisah.

September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan.

Secara umum saya setuju sama ide dari ‘belajar berpisah’. Coba bayangin kalo kita udah menjalani hubungan yang intensif dengan seseorang dengan waktu yang cukup lama, kalo saya sih bakalan menderita kalo tiba-tiba harus berpisah dengan cara yang mendadak, apalagi dengan cara yang nggak baik. Yang ada, ujung-ujungnya bakalan saling membenci, menghindari, mengutuk, atau apalah itu yang jelek-jelek. Tapi, di sisi lain saya juga nggak yakin bakalan bisa melakukan proses ‘belajar berpisah’ secara benar, karna kalo saya masih deket-deket orang yang saya sayangi tapi tujuannya adalah untuk berpisah, hal itu kayaknya bakalan jadi sangaaaaattt… berat.

Tapi secara umum orang-orang juga telah menerapkan sistem ‘mempersiapkan perpisahan’ meskipun bukan dengan pasangan hidup masing-masing. Farewell party yang banyak digelar buat orang-orang yang mau hengkang dari sebuah instansi adalah salah satu contohnya, proses menuju kelulusan dari sekolah atau universitas juga contoh lain dari perisapan untuk berpisah dengan hal-hal yang melekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Tapi lagi-lagi itu adalah hal yang nggak ringan, apalagi kalo harus berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya selalu ada di sekitar kita.

Saya yakin, meskipun ada yang namanya perpisahan, pasti nantinya bakalan ada sesuatu yang lebih baik yang bakalan terjadi dalam hidup kita. Something gone for better things, dan mengutip dari tagline temen saya yang selalu dia ucapkan di akhir siarannya: don’t cry because it’s over, but smile because it happened.

Oh hello! Sudah sangat lama sekali saya nggak nulis di blog ini, apalagi kalo bukan karena saya nggak begitu tau apa yang mau saya tulis di sini. Tiap kali pengen nulis, nggak ada bayangan apa yang bakalan saya tulis, persis kayak apa yang sering temen-temen saya bilang: kalo direncanain kadang-kadang malah gak terlaksana.

Hidup akhir-akhir ini begitu beragam buat saya, karena beberapa waktu belakangan ini saya jadi sangat ambisius buat meraih apa yang jadi mimpi saya: memenangkan sebuah kompetisi. Sejak lulus SMA, saya udah nggak pernah lagi mencicipi ketegangan saat berkompetisi. Praktis konsentrasi saya tertuju sama kuliah dan ornamen-ornamen yang ada di dalamnya, cuma akhir-akhir ini saya jadi termotivasi lagi buat ikut serta dalam sebuah kompetisi yang akhirnya bikin saya membabi buta buat ikutan ini-itu.

Selebihnya? Kerjaan juga masih gitu-gitu aja, nggak terlalu banyak perubahan, cuma penambahan crew dan beberapa hal kecil lainnya. Saya tetep ada di posisi kadang-suka-kadang-menderita sama pekerjaan saya, tapi nggak ada hal besar yang harus dipetimbangkan.

Hal lain yang lagi heboh di kampus adalah pengajuan judul skripsi. Denger aja bikin iritasi, apalagi harus melakukannya? Saya sama sekali belom kepikiran mau nulis apa, bahkan judul sekalipun. Rencana kuliah saya jadi kabur pas Udit, salah satu temen deket saya di kampus, udah ngajuin judul skripsi. Udah gitu ada yang seminar proposal, lah saya masih punya banyak mata kuliah yang harus saya ulang. Aaarrrgggggghhhhhhh…!!!!!!

Oke, saya nggak boleh terpengaruh. Temen saya boleh aja udah berencana lulus sevepat mungkin, tapi saya masih punya banyak hal buat dilakukan sesuai dengan rencana yang udah saya bikin.

Masalah KKN, ada sedikit perubahan, berbelok dari rencana awal yang pengen dapet tempat KKN sejauh mungkin dari rumah dengan tujuan melihat tempat lain selain Jogja menjadi pengen dapet KKN yang punya jam kerja pendek biar bisa disambi kerja. Ini juga berkaitan sama rencana besar tentang apa yang pengen saya raih.

Dan, thanks God! Saya nggak telalu dipusingkan sama tugas buat kuliah saya semester ini, jadi istilahnya bisa sedikit santai karna cuma ada beberapa mata kuliah aja yang tugasnya menggunung. Haha!

Ngantri di GMC

Bukan sodara-sodara, ini bukan lagi mejeng di tengah kota dengan kerumunan banyak orang yang lagi menikmati sesuatu yang menarik. Ini juga bukan lagi antri minyak tanah yang sekarang makin langka, juga bukan lagi antri tiket film box office. Ini adalah gambaran anak manusia yang lagi di ujung keputusasaan karena ketidakberdayaan mereka dalam melawan sistem yang bobrok, mereka berusaha untuk mengalihkan penderitaan yang mereka alami dengan sedikit bersenda gurau sambil mengabadikan momen penuh kepahitan yang bisa dialami oleh seorang mahasiswa.

Alkisah, saya dan temen-temen saya ini bakalan ikut KKN di liburan akhir tahun ajaran ini. Dan sebagai mahasiswa yang baik, kita berusaha buat mengikuti semua prosedur yang ada: membentuk kelompok KKN, bikin proposal, mengajukan proposal ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian terhadap Masyarakat (LPPM), menunggu diseleksi, kalo lolos seleksi pertama trus presentasi, trus diseleksi lagi, trus kalo lolos langsung mengikuti persyaratan berikutnya: bayar biaya KKN, melengkapi berkas berupa surat keterangan kesehatan yang diperoleh dari Gama Medical Center (GMC), memasukkan data dengan cara log in ke website LPPM dengan username dan password yang akan diberikan setelah ada surat keterangan kesehatan dan kuitansi pembayaran yang diserahkan ke bagian fakultas, lalu selesai kasus.

Eh? Selesai kasus?

Nggak! Kasus malah nggak bakalan pernah selesai.

Kasus pertama muncul dengan ditolaknya beberapa proposal yang masuk ke LPPM. Hal ini nggak bisa kita terima karna kita sendiri sama sekali nggak pernah tau gimana proposal KKN yang baik dan benar. Nggak ada panduannya, bahkan dalam bentuk buku sekalipun. Jadi, apa salah kalo kita bikin proposal yang nggak sesuai sama syarat-syarat yang ada? Belom lagi kekhawatiran nggak kebagian tempat.

Jadi, kekhawatiran saya dan temen-temen saya muncul ketika ada pengumuman kalo siapapun bisa log in dan memasukkan nama ke kelompok KKN manapun yang proposalnya sudah disetujui oleh LPPM. Jadi, sestemnya rebutan, siapa cepat dia dapat. Inilah yang bikin saya dan beberapa temen saya rela bayar KKN di hari pertama dan ngantri di GMC (seperti gambar di atas) buat ngedapetin surat keterangan sehat, dengan anggapan jadinya kita bisa dapet username dan password lebih cepet biar kita bisa log in dan memasukkan data duluan biar nggak direbut orang lain. Gila aja, masa iya udah susah-susah bikin kelompok sendiri, trus dikasih begitu aja ke orang lain? (kalo nggak sinting, bego banget tuh!) Nah, akibat dari isu tersebut, banjir manusia deh di GMC pas hari Senin, 6 April kemaren. Dari dalem sampe ke jalan penuh mahasiswa yang khawatir kalo tempat di kelompok KKN mereka bakalan diserobot orang lain. Bodohnya lagi, GMC sama sekali nggak tau kalo sistem yang berlaku buat KKN tahun ini adalah sistem rebutan, nggak kayak sistem tahun lalu.

Dengan LPPM yang kurang berkomunikasi dengan GMC, membludak deh jumlah mahasiswa yang mau tes kesehatan hari Senin itu. Rusuh? Nggak. Hampir rusuh, iya. Lambatnya pelayanan GMC dan sistem yang kacau jadi bulan-bulanan mahasiswa yang ngantri pada saat itu. Dalam sehari, cuma 700 mahasiswa yang dilayani. Padahal, jumlah pengantri mungkin lebih dari 1000 orang. UGM itu kampus besar dengan harga tiket masuk yang mahal, lho! Masa iya masih menerapkan sistem primitif kayak gini?

Pokoknya ini adalah kekacauan yang saya alami di awal proses menuju KKN. Belum lagi hal-hal ribet lain yang (katanya senior) bakalan harus saya dan temen-temen saya hadapi menjelang KKN dilaksanakan. Dan lagi, belom KKN-nya sendiri yang kayaknya bakalan makan waktu sampe awal puasa (dengan program kerja yang sedikit berat). Mungkin tahun depan harus ada kelompok yang mengambil tema: “Maksimalisasi Kapasitas dan Keberdayaan Sumber Daya Manusia” dengan sub judul “Peningkatan Kecerdasan Anggota Lembaga Penelitian dan Pengabdian terhadap Masyarakat”.

Older Posts »